Kisah Sahabat Nabi di Masjidil Aqsa

1 min read

Kisah Sahabat Nabi di Masjidil Aqsa

Kisah Sahabat Nabi di Masjidil Aqsa

Kisah Sahabat Nabi di Masjidil Aqsa
Kisah Sahabat Nabi di Masjidil Aqsa

Masjidil Aqsa Palestina merupakan salah satu tempat suci bagi umat Islam sedunia. Tempat ini berlokasi di Palestina yang sekarang masih diduduki oleh Israel. Bangsa Palestina yang mayoritas beragama Islam tidak leluasa beribadah di masjid tersebut.

Sejarah panjang berada dibalik Al Quds yang tidak bisa dilepaskan dari kisah para nabi dan para sahabatnya. Terutama penaklukkan Kota Jerusalem dimana lokasi masjid suci kedua tersebut berada.

Jerusalem yang di dalamnya terdapat tempat suci kedua umat Islam setelah Masjidil Haram. Tidak dapat terpisahkan dari sejarah Islam secara universal itu sendiri. Mitra Muslim harus mengetahui dan jika bisa langsung mengunjunginya dalam sebuah tour religi.

Kembalinya Masjidil Aqsa Palestina Kepada Umat Islam

Jerusalem menjadi rebutan dua kekuatan besar kelompok agama pada era Perang Salib. Ada pasukan Salib yang mewakili agama nasrani atau kristen dan pasukan muslimin sebagai kelompok Islam. Hal tersebut berkaitan dengan kisah sahabat nabi di Masjidil Aqsa.

Keduanya berperang demi agama untuk merebut dan menaklukkan kota tersebut. Masing-masing pasukan salih berganti menduduki Kota Jerusalem. Saat pasukan Salib menguasai Jerusalem, kompleks Masjidil Aqsa Palestina dijadikan tempat peribadatan Kristiani.

Selanjutnya saat dikuasai pasukan muslim, Al Quds dikembalikan fungsinya sebagai masjid untuk sholat berjamaah. Selain itu, Jerusalem menjadi lebih aman dan tentram. Tidak ada pertikaian yang berarti antar pemeluk agama berbeda.

Mayoritas penduduk disana memang beragama Islam. Namun demikian, masih ada yang memeluk agama Kristen dan Yahudi. Masyarakat di Jerusalem dapat mempertahankan rasa toleransi antar umat beragama.

Pemimpin pasukan muslim pada Perang Salib yang sangat terkenal hingga sekarang, yaitu Sholahudin Al Ayubi. Namun sebelumnya, ada kisah sahabat nabi di Masjidil Aqsa. Namanya Umar bin Khatab yang berhasil merebut Kota Jerusalem dari kekuasaan Romawi.

Pada saat menguasainya, Umar dan pasukannya tidak memaksakan penduduk Jerusalem untuk memeluk Islam. Mereka diberi kebebasan memeluk agamanya masing-masing. Selain itu, Masjidil Aqsa Palestina dijadikan pusat pemerintahan sekaligus tempat ibadahnya.

Namun sekarang, Jerusalem hingga sekarang masih diduduki Israel yang beragama Yahudi. Terutama di kompleks Al Quds, Israel sangat membatasi umat Islam untuk beribadah dan mengunjungi situs suci tersebut dengan alasan keamanan.

Mungkin suatu hari nanti Al Quds, Kota Jerusalem, dan seluruh wilayah Palestina bisa melepaskan diri dari pendudukan Isreal.

Berwisata di Situs Masjidil Aqsa Palestina

Mitra Muslim juga dapat mengunjungi kompleks Al Quds sebagai wisatawan. Tentu saja harus ada izin resmi dari otorita Israel yang berwenang dan menduduki tempat suci itu sekarang.

Jadi, tidak bisa sembarangan memasukinya karena harus melewati keamanan berlapis yang dijaga tentara maupun kepolisian Israel. Dengan kata lain, Mitra Muslim tidak bisa masuk ke dalam Masjidil Aqsa Palestina sendirian.

Jika ingin masuk ke dalamnya, Mitra Muslim dapat bergabung bersama Travel Tour Aqsa. Sudah pasti dalam sebuah rombongan wisata resmi dan berizin. Tidak perlu khawatir atas legalisasinya karena dijamin aman dan terpercaya.

Tour Aqsa Jakarta menyediakan paket wisata yang di dalamnya juga mengunjungi Masjidil Aqsa Palestina. Oleh karena itu, kesempatan langka ini jangan sampai dilewatkan karena jumlah pesertanya terbatas.

Adapun mengenai harga atau biaya wisata ke Al Qud tersebut. Mitra Muslim bisa langsung menanyakannya kepada pihak Tour Aqsa Jordan Mesir, baik secara offline maupun online. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan mengunjungi situs resminya di dunia maya.

Mitra Muslim juga perlu mengetahui sejaran Keislaman dunia secara menyeluruh. Al Qud merupakan salah satu sejarah penting bagi umat Islam. Oleh karena itu, tidak ada salahnya mengunjungi Masjidil Aqsa Palestina untuk mengenalnya lebih dekat.